Gali Potensi Gambir, Dosen Kebidanan Unbrah Terbitkan Jurnal Bereputasi Internasional Scopus Q1

Gali Potensi Gambir, Dosen Kebidanan Unbrah Terbitkan Jurnal Bereputasi Internasional Scopus Q1

Dosen Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Baiturrahmah (Unbrah), Hendri Devita, SKM, M.Biomed bersama Yudha Endra Pratama dan tim peneliti berhasil mempublikasikan hasil penelitian mengenai potensi gambir (Uncaria gambir) dalam International Journal of Molecular Sciences (IJMS), jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus Q1.

Artikel tersebut berjudul “Hormetic Antioxidant Effects of Uncaria gambir on Male Reproductive Function: A Comprehensive Experimental and Computational Analysis”. Penelitian dilakukan Hendri Devita bersama Idris Adewale Ahmed, Yudha Endra Pratama, dan Maryam Abimbola Mikail dengan mengangkat gambir sebagai tanaman obat yang kaya katekin dan memiliki potensi antioksidan.

Hendri Devita mengatakan penelitian tersebut berangkat dari potensi gambir sebagai tanaman yang banyak ditemukan dan dibudidayakan di Sumatera Barat. Selama ini gambir telah dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai keperluan, namun masih terbuka peluang besar untuk mengembangkan pemanfaatannya berdasarkan bukti ilmiah, khususnya dalam bidang kesehatan.

“Gambir merupakan salah satu potensi lokal Sumatera Barat yang memiliki kandungan bioaktif, terutama katekin. Dalam penelitian ini kami ingin melihat lebih jauh aktivitas antioksidan dan kandungan fitokimianya serta potensinya terhadap gangguan fungsi reproduksi pria akibat stres oksidatif,” jelas Hendri.

Ia menjelaskan stres oksidatif merupakan salah satu mekanisme penting yang dapat menyebabkan gangguan fungsi reproduksi pria akibat paparan nikotin. Atas dasar tersebut, penelitian dilakukan untuk melihat sejauh mana kandungan yang terdapat pada gambir berpotensi memberikan efek terhadap kondisi tersebut.

Penelitian menggunakan ekstrak gambir yang berasal dari tiga daerah produksi, yakni Halaban, Mungka, dan Pesisir Selatan. Sampel tersebut dianalisis untuk mengetahui aktivitas antioksidan, komposisi fitokimia dan aktivitas antimikroba, kemudian dilanjutkan dengan analisis komputasional serta pengujian in vivo menggunakan 36 ekor tikus Wistar jantan yang terpapar nikotin.

“Dari tiga daerah yang kami teliti, ekstrak gambir Halaban menunjukkan aktivitas antioksidan paling tinggi. Ekstrak tersebut juga memiliki kandungan katekin yang tinggi. Ini menjadi temuan menarik karena memperlihatkan bahwa sumber atau daerah asal gambir dapat berkaitan dengan karakteristik bioaktif yang dimilikinya,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak Halaban menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 6,99 ± 0,28 µg/mL dan kandungan katekin 7,91 ± 0,07 mg/g. Seluruh ekstrak yang diuji juga menunjukkan aktivitas antimikroba dengan spektrum luas.

Selain pengujian di laboratorium, tim peneliti menggunakan pendekatan komputasional untuk memprediksi aktivitas biologis dan karakteristik farmakokinetik katekin. Hasil analisis menunjukkan karakteristik yang mendukung potensi katekin untuk dikaji lebih lanjut sebagai senyawa bioaktif.

Hendri menambahkan, pengujian pada model hewan juga memberikan hasil yang menarik. Pemberian ekstrak gambir Halaban pada dosis 300 mg/kg berat badan per hari secara signifikan meningkatkan kadar follicle-stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), dan testosteron dibandingkan kelompok kontrol.

“Yang juga menarik adalah efeknya tidak bersifat linear. Dosis yang lebih tinggi justru menunjukkan efektivitas yang menurun. Kondisi ini disebut respons hormetik. Artinya, penentuan dosis menjadi bagian yang sangat penting dan tidak dapat diasumsikan bahwa semakin tinggi dosis akan selalu menghasilkan efek yang semakin baik,” jelasnya.

Menurut Hendri, hasil tersebut membuka ruang penelitian lebih lanjut terhadap gambir sebagai sumber antioksidan alami, terutama terkait gangguan fungsi reproduksi yang berhubungan dengan stres oksidatif. Namun, hasil penelitian pada model hewan tersebut belum dapat langsung diterapkan sebagai terapi pada manusia sehingga masih membutuhkan penelitian mekanistik dan translasi lebih lanjut.

Ke depan, penelitian gambir dapat dikembangkan melalui pengkajian mekanisme kerja yang lebih mendalam, standardisasi ekstrak dan senyawa aktif, aspek keamanan, penentuan dosis, hingga penelitian lanjutan sebelum dapat diarahkan pada pengembangan produk kesehatan berbasis bukti ilmiah.

Menurutnya, penelitian bahan alam juga memiliki nilai strategis bagi Sumatera Barat. Pengembangan riset tidak hanya dapat memperkuat bukti ilmiah mengenai manfaat gambir, tetapi dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas lokal apabila dapat dikembangkan menjadi bahan baku atau produk berbasis riset.

Publikasi tersebut menjadi salah satu kontribusi dosen Universitas Baiturrahmah dalam mengangkat sumber daya lokal Sumatera Barat ke dalam penelitian ilmiah internasional. Dari gambir yang tumbuh dan dibudidayakan masyarakat, riset ini membuka jalan bagi kajian yang lebih luas untuk menjadikan potensi lokal sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan.
 

Tautan berhasil disalin ke papan klip!