
Kegiatan kajian dhuha yang mengangkat tema “Gen Z dan Cara Berislamnya” dilaksanakan di Masjid Baiturrahmah pada Sabtu, 11 April 2026. Kajian ini menghadirkan Ustadz Ifkar Rasyid, M.Pd sebagai pemberi tausyiah, yang menyampaikan materi secara reflektif dan menyentuh realitas kehidupan generasi muda saat ini.
Dalam tausyiahnya, disampaikan bahwa kehidupan generasi Z tidak dapat dipisahkan dari gawai. Bahkan muncul ungkapan yang menggugah, bahwa sebagian orang lebih rela tertinggal dompet daripada telepon genggam. Hal ini menjadi gambaran kuatnya ketergantungan terhadap teknologi, yang jika tidak disikapi dengan bijak dapat berdampak pada kualitas ibadah.

Durasi penggunaan layar yang bisa mencapai lebih dari tujuh jam dalam sehari menjadi perhatian utama. Aktivitas seperti bermain game online dan menggulir media sosial secara berlebihan dinilai berpotensi melalaikan. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat menjauhkan seseorang dari kesadaran spiritual.
Selain itu, persoalan etika dalam berinteraksi juga menjadi sorotan, khususnya dengan lawan jenis yang bukan mahram. Pola komunikasi yang tidak mengenal waktu, seperti berinteraksi hingga larut malam atau di luar kepentingan yang jelas, dinilai perlu dibatasi. Bahkan, fenomena komunikasi yang melampaui norma juga ditemukan di lingkungan pendidikan, yang menjadi perhatian serius.

Tren dakwah dengan kemasan ringan seperti “kajian cinta” juga turut dibahas. Meskipun mampu menarik perhatian generasi muda, substansi dan arah dakwah harus tetap dijaga agar tidak menyimpang dari nilai-nilai keislaman.
Sebagai solusi, disampaikan beberapa langkah yang dapat diterapkan oleh generasi Z. Pertama, memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk menguatkan ibadah, seperti membaca Al-Qur’an digital, melihat waktu salat secara daring, hingga berinfak melalui sistem QR. Kedua, meningkatkan semangat dalam menuntut ilmu agama sebagai pondasi utama.

Ketiga, menjaga batasan dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun melalui media digital, dengan tetap memperhatikan etika komunikasi dan waktu yang tepat. Keempat, mengatur penggunaan gawai agar tidak berlebihan. Dan kelima, memperkuat kontrol diri agar tidak mudah terjerumus dalam aktivitas yang melalaikan.
Melalui kajian ini, diharapkan generasi Z mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, tidak hanya sebagai alat hiburan, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
