foto buk je (FILEminimizer)

H. Amran lahir pada 20 september 1929 di Padang Panjang. Anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya, H. Nurdin Datuk Palembang adalah seorang pedagang dan ibunya Siti Djalilah adalah perempuan Gantiang, seorang ibu yang tabah dan taat beribadah. H. Nurdin berusaha untuk menyekolahkan anak-anaknya. Amran kecil harus bersekolah, mau tidak mau walau jarak sekolah dengan rumahnya cukup jauh untuk ukuran sekarang, berjalan kaki 3 km menempuh jalan setapak tanpa alas kaki. Belakangan hari baru menyadari bahwa pendidikan keras yang diterapkan kepadanya adalah pendidikan kemandirian dan kedisiplinan yang sangat penting dalam perjalanan hidupnya.

Dikota Padang Panjang yang dijuluki serambi mekkah inilah H. Amran memulai langkahnya memasuki gelanggang perdagangan didampingi ayahnya. Dimulai dengan menjual minyak tanah eceran, meningkat menjadi agen dan kemudian berhasil menyewa petak toko untuk berdagang keperluan harian. Pada tahun 1952 H. Amran yang sudah berumur 22 tahun mempersunting gadis bernama Rosma berumur 19 tahun. Dari perkawinan itu H. Amran dikaruniai 4 orang anak : Ermida, Okmaida, Ali Herman dan Ahmad Suwarta. Tahun 1957 perdagangan berjalan cukup lancer. H. Amran kemudian menikah lagi dengan ibu H. Yusma dan mendapat rahmat Allah dengan lahirnya Retno Yelvi.

Dia memulai usaha dengan berjualan kain dikaki lima pasar Mambo (sekarang Koppas plaza), disamping itu juga membagi waktu dengan mengikuti kuliah pada Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Namun H. Amran tidak puas dengan mempelajari masalah ekonomi saja dan merasa perlu untuk mempelajari seluk beluk hukum. H. Amran pun ikut pula kuliah sebagai pendengar pada Fakultas Hukum.

Berjualan kain di emperan toko untuk mendapatkan nafkah untuk anak dan istrinya, hilir mudik ke Fakultas Ekonomi dan fakultas hukum, adalah suatu tantangan yang sangat luar biasa. H. Amran bertekad tidak ada alasan untuk kalah dalam gelanggang hidup yang semakin banyak tantangan ini. Tekad yang kuat serta ketaqwaan yang menyertai telah membuat membara hatinya untuk mencapai cita-cita. Dari hari ke hari waktunya semakin banyak tersita untuk berdagang. Sampai tahun 1962 setelah mendapat kesempatan menjadi agen semen dia segera beralih haluan kemudian beralih ke agen garam dan berhasil sehingga teman-teman menjulukinya raja garam. Dalam masa-masa yang menyenangkan dalam perdagangan garam ini, H. Amran memanfaatkannya untuk menunaikan rukun islam yang ke-lima dia naik haji ke Mekkah al-Mukarramah pada tahun 1971 untuk pertama kalinya.

Sejak itu H. Amran si Raja Garam yang suka tersenyum itu namanya mulai dipanggilkan Haji Amran. Dua tahun kemudian, 1973 menikah dengan Zairat. Allah SWT menganugrahi dua orang anak, Rika dan Sari. Tiba-tiba pemerintah Sumatera Barat memutuskan bisnis garam harus dikelola langsung oleh pemerintah daerah, sejak itu Haji Amran mundur dari usaha perdagangan garam. Pada tahun 1976 Haji Amran memasuki dunia bisnis transportasi yaitu mengelola sebanyak 40 unit kendaraan City Ekspres. Pada tahun 1978 membuka toko AC-DC Elektronik Service di jalan M. Yamin Padang dengan menjual berbagai merk televise dan juga membangun beberapa pertokoan didepan terminal lintas andalas (sekarang andalas plaza). Meskipun perdagangan demikian cukup lancer, masih membuka bidang usahanya yang lain, yaitu membuka usaha foto studio yang diberi nama Rahmah foto di jalan M. Yamin Padang.

YAYASAN PENDIDIKAN BAITURRAHMAH

Ada beberapa faktor lain yang menyebabkan Haji Amran menoleh kedunia pendidikan. Selain faktor tanggung jawab individualnya sebagai seorang muslim yang telah bertahun-tahun aktif dalam keluarga Muhammadiyah dan keinginannya memajukan dunia pendidikan dikalangan umat islam.
Atas persetujuan dan kerelaan istrinya, di atas sebidang tanah miliknya dijalan Damar I Padang seluas 1.200 meter dibangunlah taman kanak-kanak seperti yang diinginkannya. Haji Amran sekaligus mendirikan sebuah Yayasan Pendidikan Baiturrahmah sebagai payung dari sekolah itu. Mulai tahun ajaran baru 1979 Taman Kanak-kanak Yayasan Pendidikan Baiturrahmah dibuka dengan murid 269 orang.

Kesibukan dari hari ke hari semakin meningkat. Haji Amran memerlukan pendamping yang cekatan dalam mewujudkan cita-citanya menjadikan Yayasan Pendidikan Baiturrahmah sebagai sebuah intitusi pendidikan swasta yang berwibawa dan bermutu. Pada tahun 1984 Haji Amran mempersunting Maizarnis sebagai istrinya yang keempat. Dalam masa perkawinannya dengan Maizarnis sampai sekarang Haji Amran dikaruniai 7 orang anak ; Wahyu, Fadly, Ihsan, Irvan, Afdal, Rahma dan Rahmi Amran.

Setelah berjalan 25 tahun lebih, pada tahun 1985 bangkit kembali keinginan untuk meraih cita-cita yang telah lama terpendam itu bersamaan dengan kesempatan dan peluang yang tersedia dan setelah menempuh berbagai liku pengurusannya, akhirnya Haji Amran dapat mengantongi izin operasional untuk Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi (STKG). Setelah tahun 1987 STKG berhasil mempunyai kampus sendiri dijalan damar no. 5 Padang, tidak jauh dari kompleks sekolah-sekolah Baiturrahmah lainnya. Setahun setelah itu surat keputusan (SK) Mendikbud RI menyatakan STKG Baiturrahmah sebagai status terdaftar dan masyarakat semakin mempercayai fakultas ini sehingga jumlah mahasiswa terus meningkat.

Langkah besar berikutnya dalam pengembangan Yayasan Pendidikan Baiturrahmah adalah mendirikan Fakultas Kedokteran. Persiapan untuk mendirikan fakultas kedokteran tentulah tidak sama dengan persiapan mendirikan fakultas lainnya, disinilah timbul berbagai tanggapan dan tindakan sebagian orang terhadap apa yang dilakukannya. Umumnya, pendapat orang waktu itu adalah tidak mungkin seorang Haji Amran yang tidak punya latar belakang pendidikan kedokteran atau pendidikan tinggi lainnya akan sanggup mendirikan sebuah fakultas kedokteran yang begitu tinggi, rumit, hebat dan mahal itu, akan tetapi Haji Amran terus melangkah, lambat-lambat dan pasti, sambil tangannya menadah langit berdoa kepada Allah SWT. Jika Allah SWT mengizinkan apapun akan berlaku.
Setelah izin didapatkan dari Dirjen Perguruan Tinggi, Haji Amran segera melapor kepada Fakultas Kedokteran Unand, dalam statusnya sebagai dua saudara kakak beradik. Fakultas Kedokteran Unand sebagai yang tua, sedangkan Fakultas Kedokteran Baiturrahmah yang baru keluar izinnya itu sebagai yang muda, yang perlu dibina dan dibimbing. Prof. dr. Asnil Sahim ditunjuk sebagai Dekan pertamanya.

Universitas Baiturrahmah yang mulanya hanya menumpang di gedung SD Baiturrahmah, sejak November 1998 resmi menempati kampus barunya seluas 7,6 hektar dikawasan Aie Pacah Padang. Ruang kuliah, laboratorium, perpustakaan, komputer, labor bahasa yang cukup memadai. Terlebih utama dari segalanya itu adalah sebuah Masjid, tempat bagi para mahasiswa, dosen, pegawai, untuk sama-sama sujud dihadapan Allah SWT, setelah bekerja keras untuk kejayaan masa depan dan amal saleh untuk akhirat.

Jika sesaat kita merenungi apa yang telah dihasilkan Yayasan Pendidikan Baiturrahmah, terkadang kita bisa jadi tersentak. Selain jumlah lulusan yang semakin banyak, juga reputasi akademiknya semakin meningkat, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Fakultas Kedokteran (FK) pada tahun 1998 mendapat peringkat B dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan Fakultas Ekonomi mendapat peringkat C. sampai tahun 2002 saja. Universitas Baiturrahmah telah melahirkan lebih 1.400 sarjana program S1 dan D III.

Sampai hari ini, secara keseluruhan Universitas Baiturrahmah mempunyai berbagai fakultas dan program studi ; Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program D III Kebidanan, Program D III Teknik Radiodiagnostik & Radioterapi. Dilengkapi dengan sebuah Mesjid yang indah dan Rumah Sakit Islam Siti Rahmah. Selain Universitas Baiturrahmah, Yayasan ini memiliki Akademi Keperawatan Baiturrahmah.

2015 Powered By ICT Unbrah